"Taratak Nan Tuo : Rumah Warisan Budaya Bersama, Suara Setara"

Yayasan Taratak Nan Tuo

Yayasan Taratak Nan Tuo

“…MALAMNYA SAMA TERANG DENGAN SIANGNYA” (Tafsir Al-Azhar, Jilid 1, hal 26.)

Buya Hamka adalah manusia komplek. Warisan Pemikiran Buya Hamka Terang dan Menerangi Segala Zaman, Bagaimana kalau Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka menjadi tempat pantulan cahaya pemikiran Buya Hamka itu ?

Melalui kerja sama sinergis Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia resmi menyusun Studi Narasi dan Tata Pamer Museum Kelahiran Buya Hamka yang berlokasi di Nagari Sungai Batang, Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Langkah strategis ini diambil sebagai landasan konseptual, museologis, dan interpretatif mutakhir dalam merombak serta meningkatkan kualitas penyajian informasi di museum pahlawan nasional tersebut.

Dukungan penuh dari Kementerian Kebudayaan menjadi pendorong utama agar standardisasi pelestarian cagar budaya dan pengembangan tata pamer berbasis teknologi digital dapat terwujud secara optimal.

Dalam proses penyusunannya, studi ini secara aktif melibatkan kolaborasi lintas disiplin ilmu dengan menghadirkan Ahli Museologi/Kurator, Ahli Desain Tata Pamer, Ahli Sejarah/Budaya, serta Ahli Sosial dari Yayasan Taratak Nan Tuo. Keterlibatan para pakar ini memastikan bahwa revitalisasi museum digarap secara profesional, akurat secara historis, dan tetap berbasis pada penguatan komunitas lokal.

Melalui cetak biru yang dirancang bersama Kementerian Kebudayaan dan tim ahli, arah pengembangan museum akan digeser secara signifikan. Tempat ini tidak lagi sekadar berfungsi sebagai bangunan memorial atau tempat penyimpanan benda-benda peninggalan masa lalu yang statis. Ke depan, museum ini dirancang untuk menjadi ruang pembelajaran publik yang hidup, wadah refleksi budaya, penguatan literasi, serta pusat interpretasi utama dalam membedah pemikiran mendalam Buya Hamka bagi generasi masa kini dan masa depan.

Secara konseptual, tim perumus memposisikan destinasi ini sebagai museum biografi intelektual yang bersifat integratif. Konsep tersebut secara apik tentang sosok Hamka sebagai manusia tokoh,  sastra, pemikiran Islam, dan kebangsaan, dalam sebuah museum.
Pendekatan museologi kontemporer ini dipilih karena sosok Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka) merupakan figur multidimensional. Beliau tercatat memiliki kontribusi yang sangat besar dan melintas batas dalam berbagai bidang, mulai dari keislaman, sastra, pendidikan, dunia jurnalistik, adat budaya Minangkabau, hingga panggung politik kebangsaan Indonesia.
Dengan cetak biru tata pamer yang baru, seluruh koleksi yang ada di dalam bangunan Rumah Gadang tersebut tidak akan lagi ditampilkan secara konvensional. Setiap sudut ruang pamer bakal didesain untuk mampu menafsirkan gagasan, menuturkan detail perjalanan hidup, serta menggemakan kembali nilai-nilai dan warisan intelektual Hamka secara komunikatif serta interaktif kepada para pengunjung.