Andreas Victor Michiels atau yang populer dengan nama A.V. Michiels adalah seorang perwira dan pejabat administrasi berpangkat mayor jenderal di Hindia Belanda. Ia tewas dalam perang Bali III. A.V. Michiels dilahirkan pada 30 Mei 1797 di Maastricht, (ibukota Limburg) Belanda.
Ia memasuki dinas militer ketika berusia tujuh belas tahun dan ikut dalam Pertempuran Waterloo. Pada tahun 1817, Ia ditugaskan ke Hindia Belanda dan terlibat langsung pertempuran diberbagai tempat. Administrator yang juga, ahli strategi ini menunjukkan kemampuannya dalam sejumlah misi militer.
Perang Jawa Ia ikuti ketika menyandang komandan kolonel. Perlawanan di Cirebon, Diponegoro, Karawang, tentu tidak dilewatinya. Begitupun penaklukan Naras dan Kottiangan (1831-1832), berlanjut ke Jambi (1832 – 1833), kemudian menaklukkan Kuta (1838), dan merebut Bonjol, hingga Barus, Tapus, Singkil (1840). Kemudian memadamkan perlawanan rakyat Batipuh (1841), mematahkan perjuangan rakyat XIII Koto Sungai Pagu (1844-1845).
Peristiwa-peristiwa penting itu mengantarkan Ia menjadi Panglima Tentara Hindia Belanda pada 19 Februari 1849. Sayangnya, ia tidak lama memegang jabatan itu. Ia mengakhiri misinya karena meninggal dunia akibat pertempuran di medan perang.
Gubernur Jenderal menempatkannya A.V. Michiels sebagai kepala ekspedisi ke-3 untuk melanjutkan misi sebelumnya yang diemban Letnan Kolonel G. Bakker dan Laksamana Muda E. B. van den Broek Bali (1846), kemudian Mayor Jenderal Jhr. C. van der Wijck, Panglima Angkatan Darat sementara (1848), namun tidak berhasil. Sejarah militer Belanda menyebutkan bahwa; orang Bali tidak hanya berani, tetapi juga taktis. Metode serangan dan pertahanan mereka lebih unggul daripada metode peperangan lainnya di seluruh nusantara.

Pasukan Belanda menghadapi perlawanan sengit di saat melakukan pertempuran di Kasumba dan Klungkung. Pertempuran ini mengakibatkan 1.800 orang Bali tewas dan terluka, tapi pasukan Belanda menghadapi hal yang jauh lebih serius. Saat rakyat Bali, melakukan serangan di malam hari dengan menembaki perwira Belanda. Jenderal Michiels mengalami luka tembak yang serius tepat menyasar kaki sang pemimpin pasukan Belanda. Ia dilarikan ke kapal perang untuk menjalani tindakan medis. Ia harus menjalani tindakan amputasi, tapi keadaan berkata lain nyawa sang jendral tidak tertolong , Ia meninggal pada tanggal 25 Mei 1849.
Michiels menerima takdirnya di Hindia Belanda. Tempat dimana rakyat dan tanahnya ingin ditaklukan sebanyak dan seluas mungkin. Untuk mengenang reputasinya di Batavia-Centrum dan di Padang Sumatera Barat dibangun taman dengan monument untuk sang jendral yang telah berpulang.
Taman dan monumen A. V. Michiels di Padang, begitu kiranya, hari ini, tentu sudah tidak ditemukan lagi. Letnan Kolonel Infanteri O.I.L. Sejarawan militer dan pensiunan yang menyusun “Sejarah Militer Hindia Belanda 1811 – 1894”, mengatakan: Demikianlah, Jenderal Michiels, contoh sempurna para pemimpin dan administrator yang cerdik, energik, dan selalu mencari di paruh pertama abad ini, yang kepadanya tanah air berutang begitu banyak atas pelestarian dan perluasan koloninya, menemui ajal yang mulia di tengah pasukannya yang menang. (hlm. 343, vol. I).

Sebagai yang seorang Belanda wajar mencatatkan demikian. Namun bagi manusia yang jiwa, tanah dan harta benda yang terjajah, penuh tekanan dan pengorbanan tiada tara. Bahkan ribuan nyawa melayang akibat operasi militer sang jendral yang begitu bernafsu dan bengis tiada berperi kemanusiaan dalam ambisi penaklukan. Tiada pantas untuk diperingati dan dikenang (monumentkan). Barangkali memori dalam sudut pandang terjajah itu, Het Michielsplein te Padang tidak masuk dalam kamus pelestarian. Karena penjajahan bukanlah peradaban yang baik.
Ketika kolonialis Belanda memasuki Minangkabau di tahun 1667, persentuhan kehidupan adat dan agama (Islam) sedang dalam dinamika pertemuan dua arus perubahan sosial adat dan agama yang didengungkan kaumPaderi sedang dalam kutub yang tarik menarik. Kondisi itu, bagi Belanda satu sisi tentu tidak baik dalam hal stabilitas. Sisi lain adalah celah yang menguntungkan untuk menarik simpati satu dari dua kutub. Kehadiran A. V. Michiels adalah representasi kecemasan dan ketakutan Pemerintahan Hindia Belanda akan perubahan yang datang dari sudut Paderi dan Adat di Minangkabau. (y13s_PYK-2025)
___________________
Sumber /Bahan Bacaan
A.V. Michiels ., Nedêrlands Souvereiniteit Over De Schoonste En Rijkste Gewesten van Sumatra., A,sterdam : G. J. A. Beijerinck., 1846.
De Nedermaas; Limburgsch geïllustreerd maandblad, jrg 17, 1939-1940, no. 1, 01-01-1939
Pintoe Perniagaan; Tot Bevordering van den Export Naar Ned:Indie., Tahoen Jang Kadoea, No. 13, 1910.
