Bumi tiba-tiba bergetar hebat, gempa dahsyat yang melanda Padang Panjang dan beberapa tempat di ranah Minangkabau. Peristiwa alam itu terjadi sekitar jam sepuluh pagi pada 28 Juni 1926. Gempa bumi telah menyebabkan kerusakan serius, dan merenggut nyawa manusia. Beruntungnya bencana itu tidak terjadi pada malam hari, jika tidak, banyak orang tidak akan dapat menyelamatkan diri dari rumah mereka tepat waktu.
Gempa bumi lokal sering diamati di wilayah ini sebagai konsekuensi khas dari aktivitas vulkanik gunung berapi sekitarnya seperti; Marapi, Talang, dan Tandikek. Namun ini adalah gempa bumi tektonik yang, tidak seperti gempa vulkanik, tidak terjadi di titik tertentu, tetapi di sepanjang retakan, lipatan, atau patahan yang di dalam kerak bumi dan sering dirasakan di area yang luas, menyebabkan kehancuran dan penderitaan yang luar biasa bagi yang terkena dampak.

Orang-orang awalnya mengira itu adalah gempa bumi lokal akibat peningkatan aktivitas gunung berapi. Getarannya begitu dahsyat sehingga menyebabkan lemari-lemari terbalik atau terbuka, isinya berhamburan; apa pun yang bisa pecah, pecah. Tanah bergetar hebat, menyebabkan banyak orang merasa tidak enak badan dan membuat retakan di tanah. Semua orang berlari keluar ruangan dan melihat bagaimana dinding dan atap runtuh selama getaran terjadi. Seorang tukang pos mengabarkan dari Padang Panjang, bahwa tempat itu hancur berantakan.

Kereta api sudah tidak lagi beroperasi, yang menunjukkan bahwa skala dampak yang lagi beroprerasi. Getaran terasa terus-menerus, sering disertai dengan gemuruh bawah tanah, yang sangat merisaukan. Kondisi di Padang Panjang memperlihatkan bangunan-bangunan batu runtuh atau rusak parah sehingga tidak layak huni; bahkan bangunan kayu pun roboh. Penduduk mengungsi berkemah di bawah tenda atau ditempatkan di perkemahan militer. Jalan melalui Lembah Anai tidak dapat dilalui karena tanah longsor besar, sehingga koneksi ke Padang hanya dapat dilakukan melalui jalan alternatif, melalui Matur (Danau Manindjau) atau melalui Jalur Sitinjau. Beberapa tempat seperti; Bukittinggi, Solok, Sawahlunto, Batusangkar, dan lainnya, telah menyebabkan kerusakan bervariasi. Di Danau Singkarak, selama gempa dahsyat, sebagian jalur kereta api yang membentang di sepanjang danau terlempar ke dalam air, dan beberapa anak dilaporkan tenggelam. Gempa bumi juga terasa kuat di Padang, tetapi getarannya di sana tidak begitu dahsyat.

Banyak korban yang terkubur di bawah reruntuhan, dan pekerjaan pembersihan dilakukan secepat mungkin untuk mengeluarkan semua jenazah dari bawah reruntuhan. Apalagi jenazah cepat membusuk di iklim tropis, bau mayat segera menyelimuti kota kecil yang malang itu. Penduduk sangat luar biasa, saling bekerjasama dan berkolaborasi dengan pemerintah dan militer. Mereka bekerja siang dan malam memberikan bantuan, baik dalam kembersihkan maupun dalam merawat yang terluka, menampung yang tunawisma, dan menjaga keamanan dan ketertiban.
Selama bencana, kejadian ajaib juga terjadi misalnya ; seorang wanita terkejut oleh guncangan awal saat berada di kamar mandi, menyebabkan atap dan dinding runtuh. Namun, ia berhasil diselamatkan dari kesulitannya, setidaknya tanpa cedera serius. Seorang anak kecil sedang tidur di tempat tidurnya ketika ruangan tempat ia berada runtuh dan menimbunnya. Namun, anak itu berhasil ditarik dari bawah reruntuhan tanpa cedera sama sekali. Sekelompok orang berada di dalam mobil di jalan di Lembah Anai ketika bencana mulai terjadi. Pengemudi melihat sebuah batu besar di pinggir jalan terlepas dan jatuh. Dengan ketenangan pikiran, Ia mengerem dengan cepat, sehingga para penumpang dapat meninggalkan mobil dan melarikan diri menyusuri jalan. Mereka hampir tidak sempat menjauh dari mobil ketika tanah longsor lain menimbun kendaraan tersebut sepenuhnya. Dan masih banyak lagi kisah penyelamatan ajaib yang beredar.
Bencana alam seperti ini meninggalkan kesan mendalam, bagi banyak orang kesan yang tak terlupakan, dan begitu menegangkan bagi sebagian orang sehingga menimbulkan rasa takut yang tak terkalahkan yang berkobar hebat setiap kali ada fenomena baru yang menyerupai bencana seperti itu, bahkan hanya dengan mengingatnya. Ketika rumah-rumah baru segera berdiri dari reruntuhan yang saat ini tampak sepi, semoga dengan dukungan yang besar, diharapkan tidak akan ada penyimpangan dari contoh para pendahulu kita di Pantai Barat Sumatera, yang, bukan tanpa alasan di wilayah yang rentan terhadap bencana alam seperti ini, membangun tempat tinggal mereka dari kayu, bertumpu pada banyak tiang dan ditutupi oleh atap dataran tinggi kuno, seperti yang masih ditemukan di sana, tetapi yang secara bertahap telah digantikan oleh bangunan batu modern, yang cocok untuk kondisi Eropa, tetapi tidak mampu menahan bencana alam Indonesia yang terus mengancam.

Gempa bumi menyebabkan kerusakan signifikan pada infrastruktur, saran prasarana dan fasilitas pemerintah dan masyarakat. Jumlah bangunan yang runtuh dan rusak sangat banyak di Padang Pandjang; lebih dari 400 rumah runtuh di sana. Kerusakan serius juga terjadi di Padang, Solok, Sawahlunto, Batusangkar (Fort van de Capellen), dan Bukittinggi (Fort de Kock), meskipun dalam skala yang lebih kecil dari pada kondisi di Padang Panjang. Dari jumlah tersebut, tidak kurang dari 72 bangunan gedung pemerintah mengalami kerusakan berat atau ringan. Dua bangunan Normaalscholen di Padang Panjang, khususnya, mengalami kerusakan terberat.
Kondisi yang demikian itu, apakah Padang Panjang akan dibangun kembali atau tidak, sempat menjadi pertimbangan. Namun setelah pertimbangan matang, diputuskan untuk membangunnya kembali. Pada akhir tahun 1928, semua bangunan hampir sepenuhnya dibangun kembali atau diperbaiki.
____________________
Bahan Sumber/ Bacaan:
Indie, De Jongste Aardbeving Op Sumatra’s Westkust, 18 AUG 1926
Verslag Over De Burgerlijke Openbare Werken In Nederlandsch-Indië Over De Jaren, 1925,1926,1927 en 1928, 8. De Aardbeving Ter Westkust Van Sumatra Op 28 Juni 1926.
De ingenieur; Orgaan van het Kon. Instituut van Ingenieurs- van de vereeniging van Delftsche Ingenieurs jrg 41, 1926, no 40, 02-10-1926, De door de aardbevingen van 28 Juni 1926 aan den Staatsspoorweg ter Sumatra’s Westkust toegebrachte vernielingen.
https://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi_Padang_Panjang_1926
More Stories
PENYALURAN BANTUAN TAHAP III
BENCANA ALAM SUMATERA BARAT
RAMADHAN BERKAH: Sedekah Makanan