"Taratak Nan Tuo : Rumah Warisan Budaya Bersama, Suara Setara"

Yayasan Taratak Nan Tuo

Yayasan Taratak Nan Tuo

LEMBAH ANAI: EKSOTISME DAN TANTANGAN ALAM

“Jembatan Lengkung”, (boogbrug) mengundang kekaguman untuk sebuah karya struktur fenomenal jalur rel kereta api di Lembah Anai.Berada 36 meter di atas dasar pertemuan Batang Anai dan Puti. Jembatan lengkung berdiri perkasa diatas dua penyangga terpisah yang berjarak 56 meter. Pemandangan sekitar jembatan lengkung  menjadi begitu indah, dengan latar alam perbukitan yang hijau, jalur rel kereta api, kepulan asap lokomotif uap sedang melintas menarik gerbong-gerbong barang dan orang, dibawahnya membentang jembatan jalan raya yang lebih awal dibangun pada tahun 1833, ke bawah lagi mengalir sungai berbatu dengan air jernih yang bergemerincing sebagai nyayian alam yang melenakan. Demikian gambaran suasana jalur eksotis ini dimasa lalu, terutama ketika kereta berlokomotif uap.

Lembah Anai, adalah keindahan sekaligus tantangan alam yang menakjubkan. Beberapa peristiwa banjir bandang atau galodo yang melanda kawasan Lembah Anai pada Minggu, 12 Mei 2024 dan 27 Desember 2025, telah menjadi tragedi yang memilukan. Kejadian itu merenggut puluhan jiwa manusia serta kerugian material harta benda yang tidak sedikit nilainya. Jalur transportasi Padang – Pdg. Panjang – Bukittinggi via jalan negara Lembah Anai, terputus dan lumpuh total. Jalan raya Malalak, Maninjau mengalami kondisi yang sama, longsor terjadi diberbagai titik. Alternatif lainnya adalah jalan raya Sitinjau. Jalur inipun tidak sepenuhnya lancar, longsor dan ganguan lainnya juga menjadi momok jalur ekstrim ini. Berkaca kondisi hari ini seputar peristiwa alam di Kawasan Lembah Anai, bagaimana dengan kondisi jalur ini dimasa lalu ?

Pada malam tanggal 23 hingga 24 Desember 1892, Lembah Anai dan daerah sekitarny diguyur hujan lebat dengan curah mencapai 225-230 mm selama delapan jam. Hujan deras yang luar biasa, Batang Anai menampung kiriman air dari berbagai tempat terutama yang berhulu dari gunung Singgalang dan Tandikek. Volume air kian besar hingga menjadi banjir yang menyapu dan menghanyutkan apa saja yang dilaluinya. Jalur kereta api di Lembah Anai, beserta dinding penahan, jembatan kereta api, dan penyangganya, hanyut, jalan pos hancur akibat tanah longsor dari lereng bukit di sekitarnya, rumah, pohon, orang, dan ternak hanyut terbawa arus lumpur. Jembatan kereta api dengan bentang 50 meter dipaksa pindah tempat dan tergeletak sejauh empat puluh meter dari tempat semestinya. Lalu lintas terhenti selama berminggu-minggu, dan lebih dari setengah juta gulden dibutuhkan untuk biaya perbaikan.

Pada tahun 1904, banjir serupa kembali terjadi, banjir menerobos sempadan ngarai yang tegak nyaris lurus itu. Tanah dan bebatuan longsor di sempadan kiri kanan sungai, pohon-pohon tumbang dan bebatuan besar bergeser dan hanyut terbawa arus. Keadaan jadi lebih mengcemaskan berbagai material itu menjadi penghalangan aliran air. Air tertahan  membentuk bendungan yang semakin besar pada dasar sungai yang sempit itu hingga 10 meteran. Kumpulan air yang tertahan itu akhirnya jebol dan menyapu apa saja di sempadannya dibawa hanyut. Terutama hasil karya tangan manusia, jembatan jalur rel dan jalan raya tergerus sehingga roboh dan hanyut. Kejadian ini membuat jembatan kereta api di Lembah Anai hanyut untuk kedua kalinya. Kejadian itu kembali berulang di tahun 1914, saat hujan lebat, sebagian besar lereng perbukitan runtuh lagi, terkikis dan tergerus oleh arus deras. Badai datang dan membuat lubang-lubang besar di jalan, sehingga dalam waktu singkat semua vegetasi dan semua bangunan terkubur. (TnT-Y135)

 

___________________

Bahan/Sumber Bacaan:

De Staatsspoorweg op Sumatra., De locomotief; weekblad gewijd aan de belangen van spoor- en tramwegen, jrg 9, 1891, no. 33, 13-05-1891.

van Kol., Uit onze koloniën., Typ. A. W. Sijthoff, Leiden, (KITLV_N 84-409)

Henri Zondervan. Insulinde In  Woord En Beeld: De Anaikloof., Te Groningen Bij, J.B. Wolters.

Kalff. Een Sumatraansche Spoorweg., Op de hoogte jrg 15, 1918, 01-04-1918., (hal.160-167).

H.O. Van Bennekom., De Spoorweg door de Anei-Kloof., Het koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en West, 1904, no. 48, 11-02-1904 [Bijlage].

https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/

https://www.delpher.nl/nl